THEMATIC LEARNING MATERIALS DEVELOPMENT OF PHYSICAL EDUCATION SPORT AND HEALTH FOR ELEMENTARY STU

14 Februari 2018 Administrator



ABSTRAK

 

THEMATIC LEARNING MATERIALS DEVELOPMENT OF PHYSICAL

EDUCATION SPORT AND HEALTH FOR ELEMENTARY

STUDENTS IN CLASS V BRADFORD DISTRICT

 

Oleh: Muhamad Rohadi, M.Pd

 

Keywords: Development, Thematic Learning Materials, Penjasorkes.

This study aims to 1) Produce thematic model of learning materials on subjects Penjasorkes appropriate for elementary teaching fifth grade, 2) Determine the effectiveness of adherence to form thematic learning materials on subjects Penjasorkes grade V, 3) Knowing the interest of students to form a thematic learning materials on subjects Penjasorkes grade V.

The method used in this research is the R & D (Research and Development) the development of products in the form of thematic learning materials for learning penjasorkes grade V. The data collection technique using the observation and questionnaire data analysis techniques using descriptive statistics then converted into qualitative data. Subjects were fifth grade students in 18 elementary schools in the Bradford district. The data obtained were analyzed using qualitative descriptive statistics. Quantitative data obtained through assessment questionnaire and interviews were analyzed using descriptive statistics and then converted into qualitative data.

Results enforceability of products in each theme are as follows: theme 1 the average value is 93.28 predicate "A", with details of the value of the attitude of 95, 96.33 skills, and knowledge 88.5; 2 theme average 93.78 predicate "A", with details of the value of the attitude of 96.33, 92.83 skills, and knowledge 92.16; 3 theme average of 90.83 predicate "A", with details of the value of the attitude of 94.5, 85.83 skills, and knowledge 92.17; 4 theme average 92.33 predicate "A", with details of the value of the attitude of 89.66, 92.83 skills, and knowledge 94.5; 5 theme average 94.55 predicate "A" with the details of the value of the attitude of 92.33, 100 skills, and knowledge 91.33. From these results imply that this product can be applied and implemented in thematic learning penjasorkes fifth grade elementary school, where these products are very well received by teachers and learners penjasorkes fifth grade elementary school in the district of Bradford.

The conclusion of this research is the development of thematic penjasorkes learning materials for elementary school students in grade V can create effective learning, can be used to develop three domains of learning (cognitive, affective, and psychomotor) optimally. Suggested for Penjasorkes teachers to develop learning materials that are more creative and innovative.

 

 


PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang pembelajaran tematik. Menurut Trianti (2012:78) yang menyatakan bahwa pembelajaran tematik sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu, dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran.Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik ini dilakukan tidak lain untuk meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri, disamping itu pembelajaran tematik ini akan memberi peluang kepada siswa untuk dapat lebih berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini dapat kita lihat dari waktu pelaksanaan, aspek kurikulum dan bahan ajarnya.

Dari hasil studi pendahuluan yang telah peneliti laksanakan pada9 guru SD di kelurahan Teluk Lerong Ilir Kecamatan Samarinda Ulu Kota Samarinda dan 9 guru SD di kelurahan Sungai Dama Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda, hasil dari penelitian pendahuluan tersebut menunjukkan bahwa hampir keseluruhan SD di Kelurahan Teluk Lerong Ilir Kota Samarinda belum mengerti tentang tematik dan belum melaksanakan pembelajaran tematik dengan alasan belum adanya buku tentang tematik itu sendiri disamping itu juga karena kebijakan tentang penerapan pembelajaran tematik belum diberlakukannya di SD kelurahan Teluk Lerong Ilir. Berbanding terbalik dengan SD yang ada di kelurahan Sungai Dama Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda yang sebagian besar sudah mengerti tentang tematik dan sudah melaksanakan pembelajaran tematik walaupun belum ada buku panduan mengenai pembelajaran tematik. Terdapat beberapa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran tematik seperti contohnya pada SD Negeri Damanhuri Samarinda Utara yang mengalami kesulitan dalam penyampaian materi dikarernakan terdapat siswa yang mempunyai kebutuhan khusus, selanjutnya SD Negeri Samarinda Seberang juga mengalami kesulitan dalam mengaitkan materi tematik dengan pelajaran sebelumnya atau sesudahnya sehingga guru penjas masih sering bingung dalam menerapkan pembelajaran tematik didalam pembelajaran.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat di identifikasi beberapa masalah :

  1. Guru pendidikan jasmani di sekolah didalam melaksanakan pembelajaran masih merasa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran tematik karena keterbatasan pengetahuan mengenai pembelajaran tematik.
  2. Belum adanya pengembangan materi pembelajaran penjasorkes tematik yang dapat memberikan kemudahan untuk guru penjasorkes SD menggunakandan melaksanakan pembelajaran tematik disetiap pembelajaran penjasorkes.
  3. Dalam proses pembelajaran tematik, guru pendidikan jasmani di SD juga diharapkan lebih kreatif untuk menghasilkan ide yang kreatif supaya materi yang diberikan kepada siswa dapat lebih mudah dan efisien dalam pelaksanaannya.
  4. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas tidak menutup kemungkinan permasalahan yang meluas, untuk itu perlu diadakan pembatasan masalah tentang pengembangan materi model pembelajaran tematik pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan siswa SD kelas V Kota Samarinda.

  1. Rumusan Masalah

Dari identifikasi masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah dalam sebagai berikut :

  1. Bagaimana modelmateri PBM tematik mata pelajaran penjasorkes yang disajikan sesuai dengan tema pembelajaran kelas V SD?
  2. Bagaimana efektifitaspengembangan pembelajaran materi pembelajaran tematik penjasorkes yang disajikan dengan tema pembelajaran kelas V SD?
  3. Apakah guru dan siswa dapat menerima model kegiatan PBM tematik penjasorkes kelas V SD?

 

 

  1. Tujuan Penelitian

Dengan penelitian pengembangan ini berusaha menghasilkan suatu materi pembelajaran tematik penjasorkes di SD kelas V yang nantinya diharapkan dapat sebagai bahan acuan untuk pembelajaran tematik pada jengan sekolah dasar. Adapun tujuan dari pengembangan pembelajaran penjas tematik untuk siswa SD kelas V sebagai berikut :

  1. Menghasilkan model materi kegiatan PBM pembelajaran penjasorkes yang sesuai dengan tema pembelajaran kelas V SD.
  2. Menguji bagaimana keterlaksanaan dari bentuk kegiatan PBM mata pelajaran penjasorkes yang disajikan sesuai dengan tema pembelajaran tematik kelas V SD.
  3. Materi model pembelajaran tematik penjasorkes dapat diterima oleh guru dan peserta didik
  4. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Produk yang dihasilkan berupa modul pengembangan materi pembelajaran tematik dan video mengenai jalannya pembelajaran yang diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi tambahan dalam pembelajaran penjasorkes tematik di SD. Manfaat produk antara lain : (1) mengaktifkan siswa dalam pembelajaran Penjasorkes, (2) mengatasiketerbatasan sarana dan prasarana pembelajaran Penjasorkes, (3) meningkatkan pengetahuan guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan tentang pembelajaran tematik dengan menggunakan produk yang dihasilkan.

  1. Pentingnya Pengembangan

Untuk pemecahan masalah pembelajaran penjas tematik sekolah dasar kelas V seorang guru harus membuat sebuah bentuk kegiatan yang sesuai dengan tema yang akan diberikan. Pembelajaran tematik dapat menumbuhkan kekreatifitasan anak dan menumbuhkan keterampilan siswa sebagai sarana untuk bekal kehidupan dalam proses tumbuh kembang serta dapat pula meningkatkan komponen kesegaran jasmani sehingga melalui pembelajaran tematik peoses pembelajaran penjas yang dilakukan dapat menyenangkan dan juga bermanfaat bagi siswa.

  1. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan

Pengembangan materi pembelajaran penjasorkes tematik yang sesuai dengan karakteristik, pertumbuhan dan perkembangan sekolah dasar kelas VI ini sangat penting, sebab jika dilihat dari hasil survei guru penjaorkes di sekolah dasar banyak guru yang masih belum paham dan belum memahami dengan baik mengenai pembelajaran tematik yang sebenarnya dan juga hasil yang diharapkan dari pembelajaran tematik itu  sendiri. Adapun keterbatasan pengembangan materi pembelajaran tematik ini adalah berlaku hanya bagi siswa sekolah dasar kelas VI dan siswa pada kondisi normal, hal ini disebabkan pengembangan ini ditunjukkan tidak untuk anak dengan berkebutuhan khusus.

 

 

  1. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan keilmuan kita terutama bagi peneliti dalam hal pembelajaran penjas tematik khususnya dalam pembelajaran tematk penjas serta dapat meningkatkan kretifitas dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar.

Secara praktis untuk guru, hasil pengembangan materi pembelajaran temtik ini dapat sebagai bagian dari salah satu bahan acuan atau pedoman untuk dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik dikelas dan untukpeserta didik, dengan melalui pembelajaran tematik ini diharapkan siswa lebih kreatif dan aktif dalam pembelajaran penjas dan siswa dapat merasakan perasaan nyaman serta senang pada saat mengikuti pembelajaran penjas disekolah.

 

 

DASAR TEORI

  1. Kajian Teori
  2. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan jasmani merupakan bagian penting dari proses pendidikan secara total serta dalam pencapaian tujuan untuk mengembangkan kebugaran fisik, mental, emosional, dan social melalui aktifitas fisik. Menurut Pangrazi (2004:5) “Physical education means many things to many people”. Yang mana secara profesional sering digambarkan sebagai suatu pokok persoalan penting yang didefinisikan untuk domain pembelajaran psikomotor dan melakukan untuk mengembangkan pola aktifitas fisik seumur hidup.

  1. Tujuan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Adapun tujuan pendidikan jasmani menurut Agus Susworo Dwi Marhaendro dan Fitriyanti (2008: 13)sebagai berikut :

1)      Meletakkan landasan karakter morak yang kuat internalisasi dalam Penjas

2)      Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial, dan toleransi dalam Penjas.

3)      Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani, permainan dan olahraga.

4)      Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan, dan  olahraga.

5)      Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani.

6)      Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat.

7)      Mampu mengisi waktu luang untuk mengisi aktivitas jasmani yang berupa rekreasi.

  1. Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar

Sekolah dasar merupakan salah satu fase yang harus dilalui oleh setiap anak yang masih dalam masa pertumbuhan karena dengan pendidikan yang dilaksanakan disekolah terutama pada jenjang pendidikan SD, salah satunya bertujuan untuk membantu pertumbuhan fisik anak dengan cara belajar melalui permainan dengan begitu anak akan lebih mudah mencapai kebugaran dan mempunyi sifat sosial.Menurut Wahjoedi yang dikutip oleh Tandiyo Rahayu dan Eunike Raffy Rustiana (2012: 35) bahwa pendidikan jasmani (penjas) tidak bertujuan untuk mencetak juara cabang olahraga tertentu, melainkan merangsang pertumbuhan fisik dan mental secara positif dan proposional.

  1. Perkembangan Motorik

Proses pendidikan dan pengajaran (khususnya di sekolah) merupakan pendukung yang sangat berati bagi perkembangan motor atau fisik anak, terutama dalam hal perolehan kecakapan-kecakapan psikomotorik atau ranah karsa anak tersebut. Pengertian motorik menurut Sujiono (2008: 1.3)adalah semua gerakan yang mungkin didapatkan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkembangan motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh, dalam hal ini berkaitan dengan perkembangan pusat motorik di otak karena keterampilan motorik berkembang sejalan dengan kematangan syaraf dan otot. Menurut Muhibbin (2008:14) motor diartikan sebagai segala keadaan yang meningkat atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.

  1. Perkembangan Anak Usia SD

Rita Eka Izzaty, dkk (2008: 105-113) menyatakan bahwa perkembangan anak usia 7-12tahun meliputi

1)                 Perkembangan Fisik

Pada fase ini anak mengalami pertumbuhan seperti anak menjadi lebih tinggi, lebih berat lebih kuat, serta belajar beberapa keterampilan. Pada fase ini anak cenderung lebih aktif.

2)                 Perkembangan Kognitif

Pada masa ini menurut piaget tergolong pada masa operasi kongkrit dimana anak berfikir logis terhadap objek yang kongkrit. Perkembangan kognitif ini menggambarkan bagaimana kemampuan berfikir anak berkembang dan berfungsi.

3)                 Perkembangan Bahasa

Pada masa ini perubahan terjadi dalam hal anak berfikir tentang kata-kata dan pada usia 10-12tahun perhatian membaca mencapai puncaknya.

4)                 Perkembangan Moral

Menurut Peaget menyatakan bahwa relativisme moral menggatikan moral yang kaku. Sedangkat menurut Kohlberg yang dikutip Rita Eka Izzaty, dkk (2008: 110) menyatakan adanya enam tahap perkembangan moral. Keenam tersebut terjadi pada tiga tingkatan yaitu : Pra-konvensional, Konvensional, dan Pasca-konvensional.

5)                 Perkembangan Emosi

Dengan teman yang semakin luas maka anak dapat terbentus emosinya baik itu baik maupun emosi buruk.

6)                 Perkembangan Sosial

Pada tahap ini interaksi dengan keluarga dan teman sebaya memiliki peran yang penting. Karena pada tahap ini anak akan banyak belajaar melalui hubungan dengan teman, guru maupun orang tua itu sendiri.

  1. Pengertian Pembelajaran Tematik       

Menurut Prastowo, (2013:126).pembelajaran       Tematik    Terpadu     merupakan      suatu    pendekatan     dalam  pembelajaran   yang   secara   sengaja   mengaitkan   beberapa   aspek   baik   dalam intra   mata    pelajaran    maupun     antar   mata    pelajaran. Pembelajaran tematik tidak semata-mata belajar medorong siswa untuk mengetahui (learning to know), tetapi belajar juga untuk melakukan (learnig to do), untuk menjadi (learning to be) dan untuk hidup bersama (learning to live together)

  1. Arti Penting Pembelajaran Tematik

Menurut Trianto (2012: 86) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik antara lain: pertama, pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Kedua, pembelajaran tematik lebih menekankan pada penekanan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing), oleh karena itu guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mepengaruhi kebermaknaan belajar siswa.

  1. Prinsip Pembelajaran Tematik

Sebagian bagian dari pembelajaran terpadu, maka pembelajaran tematik memiliki  prinsip dasar  sebagaimana halnya pembelajaran terpadu menurut Trianto (2012: 84). Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:

1)      Prinsip penggalian tema

Prinsip penggalian tema merupakan prinsip utama dalam pembelajaran tematik yang mana artinya suatu tema akan ada keterkaitan menjadi target utama dalam pembelajaran.

2)      Prinsip pengelolaan pembelajaran

Seorang guru penjas jika mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses dapat mengakibatkan pengelolaan pembelajaran yang optimal, maka guru penjas harus bisa menempatkan dirinya sebagai mediator dan fasilitator dalam proses pembelajaran.

3)      Prinsip evaluasi

Suatu proses yang dilaksanakan akan menghasilkan suatu hasil yang optimal jika dilakukan evaluasi tanpa adanya evaluasi suatu hal tidak akan dapat diketahui hasilnya. Menurut trianto (2012: 86) langkah-langkah positif yang dilakukan dalam melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran tematik:

  1. Memberi kesemptan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self evaluation/self assessment) disamping bentuk evaluasi lainnya,
  2. Guru perlu mengajak para siswa untuk untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.

4)      Prinsip reaksi

Dalam hal ini pembelajaran tematik sangat memungkinkan dan gurupun akan mudah untuk bisa menemukan kiat/usaha apa saja yang dilakukan supaya tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan melalui dampak pengiring tersebut.

  1. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Menurut Prastowo, (2013: 90) Beberapa karakteristik pembelajaran tematik yang menjadi pembeda dengan pembelajaran yang lain adalah sebagaimana berikut:

1)      Berpusat pada peserta didik. Maksudnya, pembelajaran berpusat pada siswa, hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang menempatkan siswa sebagai subyek belajar, sedangkanposisi guru sebagai fasilitator.

2)      Memberikan pengalaman langsung pada peserta didik (direct experiences); dengan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata sebagai dasar untuk memehami hal-hal yang lebih abstrak.

3)      Pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu nyata dan jelas maksudnya, fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4)      Menyajikan suatu konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan hal ini siswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh serta untuk membantu permasalahan siswadalam kehidupan sehari-hari.

5)      Fleksibel atau luwes, artinya bahan ajar dalam satu mata pelajaran dapat dikaitkan dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan dapat dikaitkan dengan lingkungan tempat sekolah dan siswa berada.

6)      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, sebab siswa diberikan kesempatan untuk mengoptimalkan potensinya sesuai dengan keinginannya.

7)      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain, sehingga proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan.Model pembelajaran tematik merupakan suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa baik dapat belajar individual maupun kelompok dapat aktif mencari dan menggali serta menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik.

  1. Keunggulan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik

Pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan yang diperolehnya.Menurut departemen pendidikan kebudayaan (1996) yang dikutip oleh Trianto 2012: 88 pembelajaran terpadu memiliki kelebihan sebagai berikut:

1)      Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya

2)      Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak

3)      Kegiatan belajar bermakna bagi anak sehingga hasilnya dapat bertahan lama

4)      Keterampilan berpikir anak berkembang dlam proses pembelajaran terpadu

5)      Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan anak

6)      Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Keterampilan sosial ini antara lain yaitu kerjasama, komunikasi dan mau mendengarkan pendapat orang lain.

Selain kelebihan pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik yakni pada perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak untuk menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses menurut Indrawati (2009: 24) yang dikutip Trianto (2012: 90).

  1. Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

Pembelajaran tematik di sekolah dasar (SD) merupakan suatu hal yang relatif baru,  sehingga dalam  implementasinya belum sebagaimana yang diharapkan. Masih banyak guru yang merasa sulit dalam melaksanakan pembelajaran tematik ini. Hal ini terjadi antara lain karena guru belum mendapat pelatihan secara intensif  tentang pembelajaran tematik ini. Disamping itu juga guru masih sulit meninggalkan  kebiasan kegiatan pembelajaran yang penyajiannya berdasarkan mata pelajaran/bidang studi.

  1. Sasaran Tema

Materi pembelajaran yang dipadukan dan dikaitkan dengan mata pelajaran lain dan disesuaikan kedalam satu tema juga harus mempertimbangkan karakteristik siswa, minat siswa, kemampuan siswa, kebutuhan siswa dan pengetahuan awal siswa pada materi yang akan disampaikan oleh guru penjasorkes. Hal yang harus diperhatikan dalam penggalian tema adalah:

1)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.

2)      Tema harus bermakna, artinya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar mapel selanjutnya.

3)               Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak

4)               Tema dikembangkan harus mewadahi sebagian besar minat anak

5)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar

6)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat

7)      Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber

  1. Kajian Penelitian Yang Relevan

Sebelum penelitianpengembangan ini, terdapat beberapa penelitain yang relevan, berikut adalah hasil dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan:

1)      Penelitian yang dilakukan oleh Achmad Jamil (2009) dengan judul “Pemngembangan media pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Berbasis Komputer untuk SMP”. Hasil Penelitian menunjukank bahwa produk media pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Berbasis Komputer untuk SMP memiliki tingkatk kelayakan yang baik.

2)      Penelitian yang dilakukan oleh Tri Heni Wijayanti (1008: 70-77) “Pengembangan modul sebagai upaya meningkatkan kemandirian belajar PKN siswa SMP” hasil penelitian menunjukkan mampu meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi serta kemandirian siswa.

3)      Hasil dari penelitian Realin Setiamihardja 2009 “Pendekatan Tematik di Kelas 1 Sekolah Dasar” Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan kegiatan belajar meningkat ini terbukti berdasarkan hasil belajar siswa mencapai rata-rata 8,66 atau sekitr 86,7% tingkat pencapaian tersebut sudah tergolong cukup.

4)      Hasil dari penelitian Hendriana Sri Rejeki (2013) “Pengembangan Modul Pembelajaran Untuk Meningkatkan Perilaku Hidup Sehat Pada Anak Kelas I SD di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman”. Hasil penelitian menunjukan mampu meningkatkan perilaku hidup sehat pada anak Kelas I SD di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman.

5)      Hasil dari penelitian Sa’dun Akbar 2009 “Pengembangan Model Pembelajaran Tematik untuk Kelas 1 dan Kelas 2 Sekolah Dasar”. Hasil penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tematik untuk tahun pertama dalam enam tema, dan empat tema untuk tahun kedua sekolah dasar, yang ditemukan efektif (mencapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan) dan sedang diuji dengan skala terbatas ( di Malang )


 

 

  1. Kerangka Berfikir

 

 

                                                                                     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kerangka Berfikir

(Sumber : Ilustrasi Penelitian)

 


METODE PENELITIAN

  1. Model Pengembangan

Model penelitian pengembangan versi Borg and Gall (1989: 784-784) ini meliputi sepuluh kegiatan, yaitu: (1) Studi Pendahuluan. (2) Perencanaan penelitian. (3) Pengembangan produk awal. (4) Uji lapangan terbatas. (5) Revisi hasil ujian lapangan terbatas. (6) Uji lapangan lebih luas. (7) Revisi hasil uji lapangan. (8) Uji Kelayakan. (9) Revisi hasil uji kelayakan. (10) Diseminasi dan sosialisasi produk akhir.

  1. Prosedur Pengembangan

Secara umum, penelitian pengembangan ini dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dibuat dalam model pengembangan Borg and gall (1989) yang dikelompokkan ke dalam enam tahapan pengembangan. Dimana tahapan dalam pengembangan yang dilakukan tersebut meliputi ;  1) Studi pendahuluan, 2) Analisis Kebutuhan, 3) Menyusun draf pengembangan, 4) Validasi ahli, 5) Reviai I, 6) Produk Awal.

  1. Uji Coba Produk
  2. Desain Uji Coba

Uji coba produk dalam penelitian ini dilakukan dalam lima tahap yaitu :

1)      Uji lapangan kelompok kecil, merupakan uji lapangan awal yang melibatkan 3 SD kelas V yang ada di Kota Samarinda.

2)      Revisi Produk II oleh ahli materi penjasorkes SD

3)      Uji lapangan kelompok luas, merupakan uji lapangan yang melibatkan 15 SD  kelas V di Kota Samarinda.

4)      Revisi Produk III oleh ahli materi penjasorkes SD

5)      Produk Final, merupakan materi pembelajaran yang siap diterapkan, baik dilihat dari substansi maupun metodologi.

  1. Subjek Uji Coba

Subjek uji coba dalam penelitian pengembangan yang dilakukan ini sebanyak 18 SD , yaitu : 1) Tiga SD kelas V (SDNTeluk Lerong Ilir, SDN Awang Long, SDN Juanda) untuk uji coba lapangan kelompok kecil, 2) Lima Belas SD kelas V (SDN Karang Asam, SDN Sungai Dama, SDN Samarinda Seberang, SDN Loa Bakung, SDN Sentosa, SDN Merdeka, SDN Bhayangkara, SDN Sempaja, SDN Damanhuri, SDN Tanah Merah, SDN Suryanata, SDN Aminah Syukur, SDN Brantas, SDN Lambung mangkurat, SDN Wahab Syaharani). Subjek uji coba merupakan sasaran pemakai produk yaitu siswa SD kelas V (lima) di Kota Samarinda.

  1. Jenis Data

Jenis awal yang diperoleh pada penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif yang dikonversi ke data kualitatif. Data kualitatif di dapatkan dari hasil obeservasi dan wawancara, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari ahli materi dan ahli media. Data tersebut dimaksudkan untuk melihat kualitas dari komponen-komponen pengembangan materi pembelajaran, agar nantinya dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

  1. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen panilaian untuk menilai produk yang telah dikembangkan baik dari aspek instruksional, aspek isi, aspek tampilan, dan aspek manfaat. Instrumen yang dikembangkan dan digunakan dalam penilaian ini meliputi :

  1. RPP untuk pembelajaran
  2. Nilai asper kognitif, psikomotor, dan afektif
  3. Kuesioner untuk ahli materi
  4. Kuesioner untuk siswa guna mengevaluasi keterterimaan produk materi yang dikembangkan.
  1. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif kualitatif. Analisis ini dimaksudkan untuk menggambarkan karakteristik data pada aspek pembelajaran atau hasil belajar (kognitif afektif dan psikimotorik). Dengan ini diharapkan akan mempermudah memahami data untuk proses analisis selanjutnya. Hasil analisis data digunakan sebagai dasar untuk merevisi produk materi yang dikembangkan.

Data kuantitatif yang diperoleh melalui angket penilaian dan wawancara dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif kemudian di konversikan ke data kualitatif.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  1. Deskripsi Analisis Kebutuhan

Penelitian ini bertujuan mengembangkan materi dan suatu bentuk kegiatan pada pembelajaran tematik materi penjasorkes untuk sekolah dasar kelas V.Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan gambaran kepada guru penjasorkes khususnya tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik pada materi penjasorkes.Pembelajaran tematik saat ini sedang gencar-gencarnya disosialisasikan oleh pemerintah yang ada pada kurikulum 2013.

  1. Deskripsi Pengembangan Produk Awal

Tahap setelah merumuskan tujuan adalah pengembangan produk berupa bagaimana materi yang dikembangkan dan seperti apa bentuk kegiatan pembelajaran tematik penjasorkes dalam setiap tema. Langkah-langkah pengembangan materi pembelajaranpenjasorkes dilakukan dengan melakukan analisis tujuan, analisis karakteristik subyek, melakukan kajian literature, pengembangan rancangan produk, pengembangan penilaian hasil dan penyusunan produk awal.

  1. Validasi Ahli

Produk awal yang telah disusun tersebut perlu untuk divalidasi terlebih dahulu sebelum diujicobakan di lapangan pada skala kecil.Validasi dilakukan oleh ahli yang berkompeten dan terkait dengan penelitian.Validasi dilakukan oleh ahli materi. Para ahli tersebut adalah: (1)Drs. Bambang Priyono, M.Pd, (2) Ipang Setiawan, M.Pd, sebagai ahli Penjasorkes, (3) Bapak Ismail Ishak. S.Pd., (4) Bapak Helly Ampera S.Pd., M.Psi sebagai guru penjasorkes yang sudah melaksanakan pembelajaran tematik.

  1. Analisis Data Validasi Ahli Materi dan Guru Penjasorkes Tematik

Analisis data nilai validasi terhadap pengembangan materi pembelajaran penjasorkes tematik tersebut adalah sebagai berikut, tema 1 sampai dengan tema 6 menunjukkan rata-rata nilai 83,06. Nilai tersebut termasuk dalam kategori baik dan layak untuk diuji cobakan pada uji skala kecil, dengan sedikit revisi atau perbaikan.

Secara keseluruhan, hasil validasi ahli dan guru penjasorkes tematik yang telah disajikan diatas sesuai dan pengkategorian nilai masuk ke dalam kategori baik sehingga layak untuk diuji cobakan.

  1. RevisiDraft Awal

Perbaikan yang dilakukan peneliti selanjutnya dikonsultasikan kembali kepada para ahli. Setelah ahli menyetujui dan memutuskan bahwa materi yang dibuat layak untuk diujikan, maka tahap selanjutnya adalah melakukan uji coba produk draft awal berupa materi yang dibuat dalam bentuk pola draft pembelajaran kepada guru penjasorkes untuk dipraktekkan dan dilaksanakan dalam pembelajaran tematik pada skala kecil.

  1. Hasil Uji Coba Skala Kecil

Hasilbelajar yang dilakukan guru penjasorkes kepada peserta didik pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung pada uji skala kecil menunjukkan hasil sebagai berikut, bahwa rata-rata nilai kognitif adalah 78.17rata-rata nilai praktik adalah 77.67 dan rata-rata nilai sikap sebesar 79.67. Hasil belajar peserta didik sudah cukup baik namun masih belum maksimal, karena masih di bawah 80.

  1. Hasil Uji Coba Skala Besar

Hasil belajar peserta didik pada uji skala besar Tema 1 menunjukkan hasil sebagai berikut, bahwa rata-rata nilai kognitif adalah 91, rata-rata nilai praktik adalah 92 dan rata-rata nilai sikap sebesar 91. Tema 2 rata-rata nilai kognitif adalah 90, rata-rata nilai praktik adalah 92 dan rata-rata nilai sikap sebesar 90. Tema 3 rata-rata nilai kognitif adalah 91, rata-rata nilai praktik adalah 92 dan rata-rata nilai sikap sebesar 91. Tema 4 rata-rata nilai kognitif adalah 86, rata-rata nilai praktik adalah 88 dan rata-rata nilai sikap sebesar 90. Tema 5 rata-rata nilai kognitif adalah 88, rata-rata nilai praktik adalah 85 dan rata-rata nilai sikap sebesar 89. Tema 6 rata-rata nilai kognitif adalah 89, rata-rata nilai praktik adalah 86 dan rata-rata nilai sikap sebesar 87.

  1. Pembahasan

Pembelajaran tematik yang dilakukan oleh peserta didik merupakan penjabaran dari hasil uji skala kecil,prosentase rata-rata respon peserta didik dari tema1 sampai dengan tema 6dalam pembelajaran tematik penjasorkes sebesar  92,3%  hal ini dapat diartikan bahwa peserta didik menerima  model pembelajaran tematik sebagai pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dan juga sebagai bahan ajar alternatif guru penjasorkes dalam pelaksanaan pembelajaran tematik penjasorkes di sekolah terutama untuk peserta didik kelas V SD dari 6.

Hasil penilaian respon peserta didik pada uji skala besar di masing-masing tema mendapatkan hasil sebagai berikut: pada tema 1 respon peserta didikyaitu 93,5%, pada tema 2 respon peserta didik yaitu 93,%, pada tema 3 respon peserta didik yaitu 92,2%, pada tema 4 respon peserta didik yaitu 93,4%, pada tema 5 respon peserta didik yaitu 90,2%, pada tema 6 respon peserta didik yaitu 90,5%. Hasil ini dapat diartikan bahwa produk model pembelajaran tematik ini dapat diterapkan dan dilaksanakan dalam pembelajaran tematik, dimana produk tersebut diterima sangat baik oleh guru penjasorkes dan peserta didik kelas V seolah dasar di Kota Samarinda.

  1. Pengembangan Model Pembelajaran Tematik Materi Penjasorkes

Hasil nyata dari efektivitas pengembangan model pembelajaran tematikdilihat dari tingkat kesenangan dan ketertarikan peserta didik setelah dipelaksanaan pembelajaran tematik mapel penjasorkes dilapangan. Tingkat kesenangan dan ketertarikan peserta didik dari implementasi pelaksanaan model pembelajaran tematik pada skala besar diketahui setelahmengikuti pembelajaran tematik dari keseluruhan tema dengan nilai persentase rata-rata sebesar sebesar 92,2%.Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tematik sebagai gambaran agar mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru penjasorkes sehingga dapat berfungsi efektif dalam melaksanakan pembelajaran tematik khususnya pada mata pelajaran penjasorkes.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Produk

Kelebihan produk pengembangan ini adalah: 1) merupakan materi pengembangan yang relatif baru yang dapat diterapkan pada peserta didik, 2) dapat menjadi acuan atau buku sumber pembelajaran anak usia dini pada aspek dan tujuan yang sesuai dengan karakteristiknya, 3) materi yang dikembangkan lebih menarik sehingga peserta didik lebih antusias dalam mengikuti proses pembelajaran, 4) mudah dilaksanakan, sehingga tidak memberatkan para guru dalam mempraktikkan permainan-permainan yang dikembangkan tersebut, 5) memberikan kontribusi positif dalam pendidikan anak usia dini pada tingkat kota atau kabupaten, dan 6) dapat menjadi rujukan awal penelitian yang relevan untuk dikembangkan lagi menjadi jenis-jenis permainan yang lebih kompleks.

Kelemahan produk pengembangan ini adalah: 1) produk ini belum teruji secara luas untuk dijadikan pedoman pembelajaran di setiap sekolah, 2) permainan yang dikembangkan sifatnya terbatas pada 6 tema, 3) produk ini masih membutuhkan kreativitas guru untuk mengembangkannya.

  1. Keterbatasan Penelitian

Penelitian pengembangan yang telah disusun secara sistematis ini tetap saja memiliki keterbatasan dalam persiapan, pelaksanaan, evaluasi maupun tindak lanjutnya. Keterbatasan-keterbatasan tersebut menjadi satu kendala pengembangan materi fisik motorik anak usia dini.

Keterbatasan penelitian yang dapat diidentifikasi oleh penulis adalah sebagai berikut: 1) masih banyak sekolah khususnya sekolah dasar yang belum bisa menerapkan permainan ini karena kendala teknis, misalnya sarana-prasarana yang belum memenuhi, 2) masih banyak guru Penjasorkes sekolah dasar yang kurang kreatif dalam menerapkan jenis-jenis permainan yang dikembangkan, hal ini dapat terjadi karena kompetensi profesionalnya masih kurang, 3) masih perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang materi pengembangan model pembelajaran tematik, sehingga dapatkan hasil pengembangan yang lebih lengkap dan mendalam.

 

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

  1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan model pembelajarantematik materi penjasorkes untuk sekolah dasar kelas V di Kota Samarinda, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1)      Menghasilkan model pembelajaran tematik materi penjasorkes yang dapat menjadikan sebuah gambaran dan pedoman untuk guru penjasrokes dalam memahami tentang apa itu pembelajaran tematik, bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik kelas V sekolah dasar (SD)

2)      Model pembelajaran tematik penjasorkes dapat terlaksana dengan baik dalam proses belajar mengajar (PBM) yang disesuaikan dengan tema pembelajaran tematik khususnya pada kelas V sekolah dasar (SD)

3)      Model pembelajaran tematikmateri penjasorkes dapat diterima dengan sangat baik oleh peserta didik dan peserta didik dapat melakukan dengan penuh antusias, hal ini dapat dilihat dari hasil uji skala kecil dengan rata-rata respon peserta didik sebesar 92,4%  dan hasil dari rata-rata respon peserta didik uji skala besar sebesar 94,6%.

  1. Implikasi

Kesimpulan hasil penelitian berupa implikasi sebagai berikut:

1)      Produkmodel pembelajaran tematik yang dikembangkan menggabungkan beberapa mata pelajaran lain, dari beberapa kegiatan dan permainan juga harus disesuaikan dengan tema yang sudah ada serta disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik kelas V sekolah dasar. Produk ini dapat digunakan sebagai gambaran dan pedoman guru penjasorkes dalam proses pembelajaran tematik penjasorkes di SD.

2)      Produk model pembelajaran tematikdapat meningkatkan minat peserta didik dalam proses pembelajaran tematik materi penjasorkes karena adanya pengalaman baru sehingga peserta didik dapat termotivasi untuk melakukan tugas gerak baru yang belum pernah diberikanoleh guru dan kegiatan dan permainan yang mereka senangi.

3)      Produk model pembelajaran tematikefektif untuk pembelajaran tematik materi penjasorkes karena menciptakan efektivitas waktu pembelajaran dan mengembangkan ranah pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotor) dengan optimal.

  1.  Saran

Model pembelajaran tematikuntuk kelas VSD sebagai produk yang telah dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk bahan ajar alternatif guru dalam proses pembelajaran penjasorkes.Beberapa saran yang dapat disampaikan dengan penggunaan produk ini:

1)   Guru penjasorkes dapat menggunaka produk model pembelajaran tematik ini dengan catatan harus disesuaikan dengan karakter peserta didik.

2)   Guru penjasorkes dituntut untuk dapat menciptakan pembelajaran yang lebih variatif dan inovatif dalam mengemas materi yang akan diberikan oleh peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Suryobroto. 2001. Bentuk Pembelajaran Bermain Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal. Majalah Ilmiah Olahraga FIK UNY. Volume 7 Desember 2001.Hal: 21-22

 

Agus Susworo Dwi Marhaendro & Fitriyanti. (2008). Pemahaman Peserta Pembekalan Guru Kelas/Agama Dalam Mata Pelajaran Penjas Terhadap Pendidikan Jasmani SD di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jurnal Pendidikan Jasmani, JPJI, Volume 4, Nomor I tahun 2008.

 

Allyn & Bacon, 2001. Physical Education and Sport in a Changing Society. United States of America.

 

D.Dwiyogo, Wasis. 2010. Penelitian Keolahragaan. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Elizabeth B. Hurlock, 1978. Perkembangan Anak. Jakarta. Erlangga, PT Gelora Aksara Pratama.

 

Farah Diba dkk, 2009. Pengembangan Materi Pembelajaran Bilangan Berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurna Pendidikan Matematika, Volume 3, No. 1 Januari 2009

 

Hilda Karli,  2009. Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Fragmented di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

 

Husdarta, H.J.S. 2009. Managemen Pendidikan Jasmani, Bandung: Alfaberta

 

Kunandar, 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta. PT Rajagrafindo

 

Muhibbin.2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Mulyaningsih. Farida dan Setyo Kriswanto.Erwin. 2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan KesehatanUntuk kelas II SD/MI. Jakarta: Pusat PerbukuanKementerian Pendidikan Nasional.

 

Pangrazi.P.Robert. 2004. Dynamic Physical Education For Elementary School Children. San fransisco: Arizona state university.

 

Prastowo, Andi, 2013. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Jogjakarta: DIVAPress.

 

Realin Setiamihardja, 2009. Pendekatan Tematik di Kelas 1 Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, No. 11 April 2009

 

Rita Eka Izzaty, dkk. Et al. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.

 

Rustiana.ER., dan Rahayu.Tandiyo. 2012. Pengembangan Kecerdasan Emosi Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Jasmani. Semarang: CV.CiptaPrima Nusantara Semarang

 

Samsudin, 2008. Pembelajaran Jasmani Olahraga dan Kesehatan SD/MI. Jakarta: Prenada Media Group.

 

Sa’dun, A., Wayan, S., Pujianto. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran Tematik untuk Kelas 1 dan Kelas 2 Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, Tahun 19, No 2, Oktober 2009.

 

Saleh Haj, 2009. Dampak Penerapan Pendekatan Tematik Dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan, Volume 10, Nomor 1, Maret 2009, 1-10

 

Sidi, Indra Djati, 2003. Menuju Masyarakat Belajar Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina

Sudjana, Nana, 2002. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung : Sinar Baru

 

document.write("f t g+");